etika bisnis
September
25, 2009 · Disimpan dalam 1
Etika bisnis merupakan penerapan tanggung jawab sosial suatu
bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Bisnis selalu
berhubungan dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Hal ini dapat dipandang sebagai etika pergaulan bisnis. Seperti halnya manusia
pribadi juga memiliki etika pergaulan antar manusia, maka pergaulan bisnis
dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika
pergaulan bisnis. Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal
antara lain adalah :
1.
Hubungan antara bisnis dengan langganan / konsumen
Hubungan
antara bisnis dengan langgananya merupakan hubungan yang paling banyak
dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara
baik. Adapun pergaulannya dengan langganan ini dapat disebut disini misalnya
saja :
a.
Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau
mengadakan perbandingan harga terhadap produknya.
b.
Bungkus atau kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya,
sehingga produsen perlu menberikan penjelasan tentang isi serta kandungan atau
zat-zat yang terdapat didalam produk itu.
c.
Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat
etis bagi suatu bisnis. Sangatlah tidak etis suatu bisnis yang menjual
produknya yang ternyata jelek (busuk) atau tak layak dipakai tetap saja
tidak mau mengganti produknya tersebut kepada pembelinya.
2.
Hubungan dengan karyawan
Manajer
yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali
harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya.Pergaulan bisnis
dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan (recruitment),
Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, Tranfer, demosi
(penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan / PHK ( pemutusan hubungan
kerja). Didalam menarik tenaga kerja haruslah dijaga adanya penerimaan yang
jujur sesuai dengan hasil seleksi yang telah dijalankan. Sering kali terjadi
hasil seleksi tidak diperhatikan akan tetapi yang diterima adalah peserta atau
calon yang berasal dari anggota keluarga sendiri. Disamping itu tidak jarang
seorang manajer yang mencoba menaikan pangkat para karyawan dari generasi muda
yang dianggapnya sangat potensial dalam rangka membawa organisasi menjadi lebih
dinamis, tetapi hal tersebut mendapat protes keras dari karyawan dari generasi
tua. Masalah lain lagi dan yang paling rawan adalah masalah pengeluaran
karyawan atau dropout. Masalah DO atau PHK ini perlu mendapatkan perhatian
ekstra dari para manajer karena hal ini menyangkut masalah tidak saja etik akan
tetapi juga masalah kemanusian. Karyawan yang di PHK –kan tentu saja akan
kehilangan mata pencahariannya yang menjadi tumpuan hidup dia bersama
keluarganya.
3.
Hubungan antar bisnis
Hubungan
ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain
Hal ini bisa terjadi hubungn antara perusahaan dengan saingannya, dengan
penyalurnya, dengan grosirnya, dengan pengecernya, agen tunggalnya maupun
distributornya. Dalam kegiatan sehari-hari tentang hubungan tersebut sering
terjadi benturan-benturan kepentingan antar kedunya. Dalam hubungan itu tidak
jarang dituntut adanya etika pergaulan bisnis yang baik. Sebagai contoh sebuah
penerbit yang ingin menyalurkan buku-buku terbitanya kepada para grosir
yang bersedia membeli secara kontan dalam jumlah besar dan kontinyu
dengan memperoleh potongan rabat yang sama dengan penyalur. Rencana ini menjadi
kandas karena mendapat protes keras dari para penyalur-penyalurnya yang
memandang tindakan penerbit tersebut akan sangat merugikan para penyalur
sedangkan omset dari para penyalur sendiri dalam beberapa tahun tidak
meningkat. Contoh lain adalah adanya perebutan tenaga kerja ahli atau manajer
profesional oleh para pengusaha, persaingan harga yang saling menjatuhkan
diantara bisnismen dan sebagainya.
4.
Hubungan dengan Investor
Perusahaan
yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik”
harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada
para insvestor atau calon investornya. Informasi yang tidak jujur akan
menjerumuskan para investor untuk mengambil keputusan investasi yang keliru.
Dalam hal ini perlu mandapat perhatian yang serius karena dewasa ini di Indonesia
sedang mengalami lonjakan kegiatan pasar modal. Banyak permintaan dari para
pengusaha yang ingin menjadi emiten yang akan menjual sahamnya kepada
masyarakat. Dipihak lain masyarakat sendiri juga sangat berkeinginan untuk
menanamkan uangnya dalam bentuk pembelian saham ataupun surat-surat berharga
yang lain yang diemisi oleh perusahaan di pasar modal. Oleh karena itu
masyarakat calon pemodal yang ingin membeli saham haruslah diberi informasi
secara lengkap dan benar terhadap prospek perusahan yang go public tersebut.
Jangan sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi
terhadap hal ini.
5.
Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
Hubungan
dengan lembaga-lembaga keuangan terutama jawatan pajak pada umumnya merupakan
hubungan pergaulan yang bersifat finansial. Hubungan ini merupakan hubungn yang
berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan
Rugi dan Laba misalnya. Laporan finansial tersebut haruslah disusun secara baik
dan benar sehingga tidak terjadi kecendrungan kearah penggelapan pajak
misalnya. Keadaan tersebut merupakan etika pergaulan bisnis yang tidak baik.
Pelaksanaan
tangungjawab sosial suatu bisnis merupakan penerapan kepedulian bisnis terhadap
lingkungan, baik lingkungan alam, teknologi, ekonomi, sosial, budaya,perintah
maupun masyarakat Internasional. Bisnis yang menerapkan tanggung jawab sosial
itu merupakan bisnis yang menjalankan etika bisnis, sedangkan bisnis yang tidak
melaksanakan tanggung jawab sosial itu merupakan penerapan yang tidak etis. Penerapan
etika bisnis ini murupakan penerapan dari konsep “ Stake Holder”
sebagai pengganti dari konsep lama yaitu konsep “Stock Holder” .
Pengusaha yang menerapkan konsep Stock Holder berusaha untuk
mementingkan kepentingan para pemengang saham (Stockholder) saja, di
mana para pemegang saham tentu saja akan mementingkan kepentinganya yaitu
penghasilan yang tinggi baginya yaitu yang berupa deviden atau pembagian laba
serta harga saham dipasar bursa. Dengan memperoleh deviden yang tinggi maka
penghasilan mereka akan tinggi, sedangkan dengan naiknya nilai atau kurs saham
akan merupakan kenaikan kekayaan yang dimilikinya yaitu sahamnya itu dapat
dijual dengan harga yang lebih tinggi. Pemenuhan kepentingan ataupun tuntutan
dari para pemengan saham itu sering kali mengabaikan kepentingan – kepentingan
pihak-pihak yang lain yang juga terlibat dalam kegiatan bisnis. Pihak lain yang
terkait dalam kegiatan bisnis tidak hanya para pemegang saham saja akan tetapi
masih banyak lagi seperti :
-
Pekerja/ karyawan
-
Konsumen
-
Kreditur
-
Lembaga-lembaga keuangan
-
Pemerintah.
Pengusaha
yang menjalankan bisnisnya dengan mengingat atau memperhatikan kepentingan
pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan bisnis yang tidak saja hanya
mementingkan kepentingan pemegang saham saja merupakan pengusaha yang
menerapkan konsep baru yang dikenal sebagai konsep “ Stakeholder”.
SUMBER NYA : http://inn3.wordpress.com/2009/09/25/etika-bisnis/