ASPEK-ASPEK HUKUM KETENAGAKERJAAN
DALAM PEMBANGUNAN INDUSTRI PARIWISATA SEBAGAI
INDUSTRI
GAYA BARU
DALAM RANGKA MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJASEBAGAI
Atje, Suherman, Sarinah
Fakultas Hukum Universitas Padjadjaraan
Jl. Dipati Ukur 35
Bandung
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Pertumbuhan Usaha Kepariwisataan dan Jumlah Tenaga
Kerja Yang Terserap di Provinsi DT I Jawa Barat
Menurut
catatan kantor Wilayah Departemen tenaga Kerja Provinsi Daerah Tingkat I Jawa
Barat, pada tahun 1995 terdapat 259.783 orang pencari kerja yang terdiri dari
134.937 orang tenaga kerja laki-laki dan 124.826 orang tenaga kerja wanita.
Dari sekian banyak pencari kerja ini sebagian dapat disalurkan pada usaha kepariwisataan.
Usaha
kepariwisataan di Provinsi daerah Tingkat I Jawa Barat, pada tahun 1995 dapat
menyerap 81.783 tenaga kerja dan pada tahun 1996 sudah mencapai 91.817 tenagakerja.
Jadi selama l tahun, jumlah tenaga kerja yang terserap pada usaha kepariw isataan
ini naik sebanyak 10. 034 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
TABEL
l
PENYERAPAN
TENAGA KERJA USAHA KEPARIWISATAAN SEJAWA
BARAT
DARI TAHUN 1990-1996
Tahun Jumlah
Tenaga kerja
1990
……………………………………………………………. 34.757
1991
……………………………………………………………. 39. 467
1992
……………………………………………………………. 42. 258
1993
……………………………………………………………. 51. 023
1994
……………………………………………………………. 70. 184
1995
……………………………………………………………. 81. 783
1996
……………………………………………………………. 91. 817
Sumber : Dinas
Pariwisata Provinsi DT I Jabar
1.
Obyek Wisata
Di Provinsi jawa Barat terdapat
321 jenis obyek wisata yang terdiri dari 170 jenis obyek wisata alam, 89 jenis
obyek Wisata Budaya dan 62 jenis obyek Wisata minat Khusus. Dari sekian banyak
obyek wiasat tersebut yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah yang ada
di Kotamadya Bogor yaitu sebanyak 585 orang tenaga kerja, yang kemudian disusul
oleh Kabupaten Subang sebanyak 565 orang tenaga kerja.
2.
Pramuwisata
Tenaga kerja
yang menjadi pramuwisata yang terdaftar pada Dinas Pariwisata Provinsi daerah
Tingkat I Jawa Barat sampai saat penelitian ini dibuat ada 390 orang yang
terdiri dari 104 orang berstatus Madya, 221 orang berstatus Muda, 56 orang berstatus
khusus dan 9 orang tidak berstatus.
3.
Kolam renang, Pemancingan, Lapangan Golf
Kolam renang
yang ada di provinsi Jawa Barat sampai saat penelitian ini adalah sebanyak 681
orang tenaga kerja, kolam pemancingan 209 orang tenaga kerja dan lapangan golf
3412 orang tenaga kerja
4.
Bar, Biliar, Mesin Ketangkasan dan Bioskop
Bar, biliar,
mesin ketangkasan dan bioskop tidak kalah pentingnya dalam menunjang
kepariwisataan. Hampir di semua kabupaten dan kotamadya yang ada di Provinsi
Daerah Tingkat I Jawa Barat terdapat usaha-usaha ini. Ada sebanyak 5.040 orang
tenaga kerja dapat diserap dalam usaha-uasah bar, biliar, mesin ketangkasan dan
bioskop ini.
5.
Diskotik, Karaoke, klub malam. Dan Pub
Usaha-usaha ini,
di seluruh Provinsi Jawa barat dapat menyerap sebanyak 832 orang tenaga kerja.
Yang paling banyak menyerap tenaga kerja dalam usaha ini adalah Kabupaten Bogor
yaitu sebanyak 225 orang tenaga kerja yang kemudian disusul oleh Kotamadya
Cirebon sebanyak 67 orang.
6.
Biro Perjalanan umum
Sampai tahun
1997, jumlah perusahaan biro penjalanan umum yang ada di Jawa Barat sebanyak
157 unit dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 956 orang. Ini berarti ada
kenaikan sebanyak 85 unit dan 520 orang tenaga kerja jika dibandingkan dengan
tahun 1995. Pada tahun 1995 di Jawa Barat hanya terdapat 72 unit perusahaan biro
perjalanan umum dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 436 orang.
7.
Usaha Akomodasi
Dalam usaha
akomodasi, Jawa Barat pada periode 1996/1997 dapat menyerap tenaga kerja
sebanyak 20. 564 orang yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Kotamadya
Bandung yaitu sebanyak 5. 943 orang, yang kemudian disusul oleh Kabupaten
Serang sebanyak 1.417 orang. Kemudian disusul oleh Kabupaten Bogor sebanyak
1.509 orang tenaga kerja yang terdiri dari 1.128 orang tenaga kerja laki-laki
dan 381 tenaga kerja wanita.
8.
Pondok Wisata
Di Jawa Barat
terdapat 179 unit pondok wisata dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 564 orang tenaga kerja
laki-laki dan wanita.
9.
Penginapan Remaja
Di Jawa barat
terdapat 25 unit penginapan remaja yang dapat menyerap sebanyak 555 orang
tenaga kerja yang terdiri dari 409 orang laki-laki dan 146 orang wanita. Yang
paling banyak adalah di Kotamadya bandung yaitu sebanyak 18 unit dengan tenaga
kerja yang terserap sebanyak 231 orang yang terdiri dari 156 pria dan75 orang
wanita. Kalau dibandingkan dengan tahun 1995, ada kenaikan seba nyak 2 unit
penginapan remaja dan 26 orang tenaga kerja yang terserap
10.
Usaha Perkemahan
Di Jawa Barat
terdapat 34 unit usaha perkemahan yang dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 160
orang tenaga kerja yang terdiri dari 150 orang laki-laki dan 10 orang wanita.
Kalau dibandingkan dengan tahun 1995, adakenaikansebanyak dua unit dan 22 orang tenaga kerja yang
terserap.
11.
Rumah Makan/Restoran
Yang terdaftar
pada Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat terdapat 3964 buah
restoran/rumah makan dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 18. 372 orang.
B.
Hambatan-hambatan
Meskipun
banyak tenaga kerja yang tertampung dalam lapangan-lapangan usaha
kepariwisataan, baik langsung maupun secara tidak langsung, namun di dalam
pelaksanaannya, terdapat pula hambatan-hambatan antara lain :
1.
Masih
adanya pandangan yang negative dari masyarakat tertentu kalau bekerja pada
usaha pariwisata terutama kalau bekerja di hotel
2.
Terlalu
banyak birokrasi yang harus ditempuh oleh para pengusaha kalau mereka akan
mendirikan suatu perusahaan.
3.
Kurangnya
tenaga yang professional di bidang kepariwisataan, merupakan hambatan pula bagi
pengusaha dalam memajukan perusahaannya karena relevansi dan kualitas sebagian
besar pendidikanmasih kurang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
4.
banyak
tenaga kerja yang bergerak dibidang kepariwisataan belum menguasai bahasa asing
dengan baik, khususnya bahsa inggeris, sehingga menghambat kelancaran
komunikasi.
5.
Kesadaran akan pentingnya pelatihan dan
penghargaan terhadap hasil pelatihan keahlian dan ketrampilan di kalangan
masyarakat dan pengusaha masih rendah, dan belum sepadannya penghargaan
terhadap hasil pendidikan formal, pelatihan dan pengalaman kerja.
Kesimpulan dan
Saran
Kesimpulan
Dari
data-data hasil penelitian, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perkembangan
usaha Kepariwisataan di Provinsi daerah Tingkat I Jawa Barat sangat besar
peranannya dalam menampung tenaga kerj. Dari sekian banyak pencari kerja,
sebagian dapat disalurkan pada usaha kepariwisataan.
2. Meskipun
industri pariwisata besar sekali andilnya bagi pemerintah dalam membuka
lapangan kerja, namun masih banyak kendala-kendala yang menghambat kelancaran
dunia usaha kepariwisataan baik dari masyarakat pencari kerja maupun dari
aparat pemerintah sendiri.
3. Dalam
mengatasi hambatan-hambatan tersebut, pemerintah telah berusaha untuk
meningkatkan sumber daya manusia baik melalui jalur pendidikan formal maupun
jalur latihan kerja.
Saran
1.
Diperlukan
adanya koordinasi yang baik anatra para pelaku proses produksi barang dan jasa
( pekerja, pengusaha, pemerintah ) yang berkaitan dengan kepariwisataan.
2.
Diperlukan
adanya pendidikan, pembinaan, penyuluhan dan pelatihan kepariwisataan secara
berlanjut dan berkesinambungan.
3.
Hendaknya
pemerintah menyederhanakan birokratisasi.
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
Benggolo. A., Tanpa tahun, Tenaga Kerja dan Pembangunan,
yayasan Jasa Karya, Jakarta
Direktorat Jenderal Pariwisata, 1985, Pengantar Pariwisata Indonesia,
Jakarta
Latief, A., 1994, “Perlu Pemahaman Hubungan Industrial Pancasila”, Hubungan industri dan
Organisasi ketenagakerjaan dalam Perspektif PJPT II, yayasan Tenaga Kerja Indonesia ( YTKI ) dan Friedrich Ebert
Stiftung ( FES )
Manulang,
SH., 1995, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di
Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, Cetakan kedua.
Yoeti, OA., 1983, Pengantar Ilmu Pariwisata, Angkasa,
Bandung.
------------- ,1997, Perencanaan dan pengembangan pariwisata, Pradnya paramita, Bandung