Senin, 22 April 2013

POSTING 6 ASPEK-ASPEK HUKUM KETENAGAKERJAAN



ASPEK-ASPEK HUKUM KETENAGAKERJAAN
DALAM PEMBANGUNAN INDUSTRI PARIWISATA SEBAGAI INDUSTRI
GAYA BARU DALAM RANGKA MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJASEBAGAI
Atje, Suherman, Sarinah
Fakultas Hukum Universitas Padjadjaraan
Jl. Dipati Ukur 35 Bandung




HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Pertumbuhan Usaha Kepariwisataan dan Jumlah Tenaga Kerja Yang Terserap di Provinsi DT I Jawa Barat

Menurut catatan kantor Wilayah Departemen tenaga Kerja Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, pada tahun 1995 terdapat 259.783 orang pencari kerja yang terdiri dari 134.937 orang tenaga kerja laki-laki dan 124.826 orang tenaga kerja wanita. Dari sekian banyak pencari kerja ini sebagian dapat disalurkan pada usaha kepariwisataan.

Usaha kepariwisataan di Provinsi daerah Tingkat I Jawa Barat, pada tahun 1995 dapat menyerap 81.783 tenaga kerja dan pada tahun 1996 sudah mencapai 91.817 tenagakerja. Jadi selama l tahun, jumlah tenaga kerja yang terserap pada usaha kepariw isataan ini naik sebanyak 10. 034 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

TABEL l
PENYERAPAN TENAGA KERJA USAHA KEPARIWISATAAN SEJAWA
BARAT DARI TAHUN 1990-1996

Tahun                                                                            Jumlah Tenaga kerja
1990 …………………………………………………………….  34.757
1991 …………………………………………………………….  39. 467
1992 …………………………………………………………….  42. 258
1993 …………………………………………………………….  51. 023
1994 …………………………………………………………….  70. 184
1995 …………………………………………………………….  81. 783
1996 …………………………………………………………….  91. 817

Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi DT I Jabar

1.     Obyek Wisata

Di Provinsi jawa Barat terdapat 321 jenis obyek wisata yang terdiri dari 170 jenis obyek wisata alam, 89 jenis obyek Wisata Budaya dan 62 jenis obyek Wisata minat Khusus. Dari sekian banyak obyek wiasat tersebut yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah yang ada di Kotamadya Bogor yaitu sebanyak 585 orang tenaga kerja, yang kemudian disusul oleh Kabupaten Subang sebanyak 565 orang tenaga kerja.

2.     Pramuwisata

Tenaga kerja yang menjadi pramuwisata yang terdaftar pada Dinas Pariwisata Provinsi daerah Tingkat I Jawa Barat sampai saat penelitian ini dibuat ada 390 orang yang terdiri dari 104 orang berstatus Madya, 221 orang berstatus Muda, 56 orang berstatus khusus dan 9 orang tidak berstatus.

3.     Kolam renang, Pemancingan, Lapangan Golf

Kolam renang yang ada di provinsi Jawa Barat sampai saat penelitian ini adalah sebanyak 681 orang tenaga kerja, kolam pemancingan 209 orang tenaga kerja dan lapangan golf 3412 orang tenaga kerja 

4.     Bar, Biliar, Mesin Ketangkasan dan Bioskop

Bar, biliar, mesin ketangkasan dan bioskop tidak kalah pentingnya dalam menunjang kepariwisataan. Hampir di semua kabupaten dan kotamadya yang ada di Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat terdapat usaha-usaha ini. Ada sebanyak 5.040 orang tenaga kerja dapat diserap dalam usaha-uasah bar, biliar, mesin ketangkasan dan bioskop ini.

5.     Diskotik, Karaoke, klub malam. Dan Pub

Usaha-usaha ini, di seluruh Provinsi Jawa barat dapat menyerap sebanyak 832 orang tenaga kerja. Yang paling banyak menyerap tenaga kerja dalam usaha ini adalah Kabupaten Bogor yaitu sebanyak 225 orang tenaga kerja yang kemudian disusul oleh Kotamadya Cirebon sebanyak 67 orang.

6.     Biro Perjalanan umum

Sampai tahun 1997, jumlah perusahaan biro penjalanan umum yang ada di Jawa Barat sebanyak 157 unit dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 956 orang. Ini berarti ada kenaikan sebanyak 85 unit dan 520 orang tenaga kerja jika dibandingkan dengan tahun 1995. Pada tahun 1995 di Jawa Barat hanya terdapat 72 unit perusahaan biro perjalanan umum dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 436 orang.

7.     Usaha Akomodasi

Dalam usaha akomodasi, Jawa Barat pada periode 1996/1997 dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 20. 564 orang yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah Kotamadya Bandung yaitu sebanyak 5. 943 orang, yang kemudian disusul oleh Kabupaten Serang sebanyak 1.417 orang. Kemudian disusul oleh Kabupaten Bogor sebanyak 1.509 orang tenaga kerja yang terdiri dari 1.128 orang tenaga kerja laki-laki dan 381 tenaga kerja wanita.

8.     Pondok Wisata

Di Jawa Barat terdapat 179 unit pondok wisata dengan tenaga kerja yang  terserap sebanyak 564 orang tenaga kerja laki-laki dan wanita.

9.     Penginapan Remaja

Di Jawa barat terdapat 25 unit penginapan remaja yang dapat menyerap sebanyak 555 orang tenaga kerja yang terdiri dari 409 orang laki-laki dan 146 orang wanita. Yang paling banyak adalah di Kotamadya bandung yaitu sebanyak 18 unit dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 231 orang yang terdiri dari 156 pria dan75 orang wanita. Kalau dibandingkan dengan tahun 1995, ada kenaikan seba nyak 2 unit penginapan remaja dan 26 orang tenaga kerja yang terserap

10.            Usaha Perkemahan

Di Jawa Barat terdapat 34 unit usaha perkemahan yang dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 160 orang tenaga kerja yang terdiri dari 150 orang laki-laki dan 10 orang wanita. Kalau dibandingkan dengan tahun 1995, adakenaikansebanyak  dua unit dan 22 orang tenaga kerja yang terserap.

11.            Rumah Makan/Restoran

Yang terdaftar pada Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat terdapat 3964 buah restoran/rumah makan dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 18. 372 orang.

B.     Hambatan-hambatan

Meskipun banyak tenaga kerja yang tertampung dalam lapangan-lapangan usaha kepariwisataan, baik langsung maupun secara tidak langsung, namun di dalam pelaksanaannya, terdapat pula hambatan-hambatan antara lain :
1.     Masih adanya pandangan yang negative dari masyarakat tertentu kalau bekerja pada usaha pariwisata terutama kalau bekerja di hotel
2.     Terlalu banyak birokrasi yang harus ditempuh oleh para pengusaha kalau mereka akan mendirikan suatu perusahaan.
3.     Kurangnya tenaga yang professional di bidang kepariwisataan, merupakan hambatan pula bagi pengusaha dalam memajukan perusahaannya karena relevansi dan kualitas sebagian besar pendidikanmasih kurang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
4.     banyak tenaga kerja yang bergerak dibidang kepariwisataan belum menguasai bahasa asing dengan baik, khususnya bahsa inggeris, sehingga menghambat kelancaran komunikasi.
5.      Kesadaran akan pentingnya pelatihan dan penghargaan terhadap hasil pelatihan keahlian dan ketrampilan di kalangan masyarakat dan pengusaha masih rendah, dan belum sepadannya penghargaan terhadap hasil pendidikan formal, pelatihan dan pengalaman kerja.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dari data-data hasil penelitian, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perkembangan usaha Kepariwisataan di Provinsi daerah Tingkat I Jawa Barat sangat besar peranannya dalam menampung tenaga kerj. Dari sekian banyak pencari kerja, sebagian dapat disalurkan pada usaha kepariwisataan.
2. Meskipun industri pariwisata besar sekali andilnya bagi pemerintah dalam membuka lapangan kerja, namun masih banyak kendala-kendala yang menghambat kelancaran dunia usaha kepariwisataan baik dari masyarakat pencari kerja maupun dari aparat pemerintah sendiri.
3. Dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut, pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan sumber daya manusia baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur latihan kerja.

Saran
1.                          Diperlukan adanya koordinasi yang baik anatra para pelaku proses produksi barang dan jasa ( pekerja, pengusaha, pemerintah ) yang berkaitan dengan kepariwisataan.
2.                          Diperlukan adanya pendidikan, pembinaan, penyuluhan dan pelatihan kepariwisataan secara berlanjut dan berkesinambungan.
3.                          Hendaknya pemerintah menyederhanakan birokratisasi.


DAFTAR KEPUSTAKAAN
Benggolo. A., Tanpa tahun, Tenaga Kerja dan Pembangunan, yayasan Jasa Karya, Jakarta

Direktorat Jenderal Pariwisata, 1985, Pengantar Pariwisata Indonesia, Jakarta

Latief, A., 1994, “Perlu Pemahaman Hubungan Industrial Pancasila”, Hubungan industri dan Organisasi ketenagakerjaan dalam Perspektif PJPT II, yayasan Tenaga Kerja Indonesia ( YTKI ) dan Friedrich Ebert Stiftung ( FES )

 Manulang, SH., 1995, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, Cetakan kedua.

Yoeti, OA., 1983, Pengantar Ilmu Pariwisata, Angkasa, Bandung.

 ------------- ,1997, Perencanaan dan pengembangan pariwisata, Pradnya paramita, Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar